SOSIALISASI DAN PENERAPAN PERMAINAN TRADISIONAL ASAL DIY DALAM MENUMBUHKAN KARAKTER DAN KEBUGARAN JASMANI ANAK KAMPUNG EMAS

Sleman, 4 Juli 2026 — Permainan tradisional menjadi salah satu sarana edukatif yang dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan kembali kearifan lokal sekaligus mendorong anak-anak untuk aktif bergerak. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Sosialisasi dan Penerapan Permainan Tradisional Asal DIY dalam Menumbuhkan Karakter dan Kebugaran Jasmani Anak Kampung Emas” yang dilaksanakan di Kampung Emas, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan anak-anak kelas 3–5 sekolah dasar sebagai peserta. Mereka diajak untuk mengenal, memahami, dan mempraktikkan berbagai permainan tradisional, yaitu gobak sodor, engklek, dan bakiak. Ketiga permainan tersebut dipilih karena tidak hanya menghadirkan suasana bermain yang menyenangkan, tetapi juga memiliki unsur aktivitas fisik dan nilai-nilai karakter yang relevan dengan perkembangan anak. Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus alternatif aktivitas fisik bagi anak. Peserta kemudian mendapatkan penjelasan mengenai aturan dan cara bermain sebelum secara langsung mempraktikkan permainan secara berkelompok. Permainan gobak sodor menjadi salah satu aktivitas yang mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Permainan beregu ini menuntut anak untuk bergerak aktif, mengatur strategi, menjaga konsentrasi, serta bekerja sama dengan anggota kelompok. Sejumlah kajian juga menunjukkan bahwa gobak sodor dapat berkaitan dengan pengembangan kemampuan jasmani, termasuk kelincahan dan kebugaran anak. Selain aspek fisik, gobak sodor memberikan ruang bagi anak untuk belajar mengenai kejujuran, kepatuhan terhadap aturan, tanggung jawab, kerja sama, ketangguhan, dan kemampuan mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut menjadikan permainan tradisional tidak sekadar aktivitas rekreatif, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran karakter yang menyenangkan. Permainan berikutnya adalah engklek, yang dilakukan dengan melompat menggunakan satu atau dua kaki pada pola permainan yang telah dibuat. Aktivitas ini memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih keseimbangan, koordinasi gerak, kelincahan, konsentrasi, dan kontrol tubuh. Dalam pelaksanaannya, anak juga belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, serta menghargai teman yang sedang bermain. Sementara itu, permainan bakiak dilakukan secara berkelompok dengan mengutamakan kekompakan langkah. Anak-anak harus mampu menyelaraskan gerakan kaki dan berkomunikasi dengan anggota kelompok agar dapat mencapai garis akhir. Aktivitas tersebut menjadi sarana yang menarik untuk menanamkan nilai kerja sama, komunikasi, kekompakan, disiplin, tanggung jawab, dan sportivitas. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Anak-anak tidak hanya aktif secara fisik, tetapi juga menunjukkan kegembiraan dan interaksi sosial selama mengikuti setiap permainan. Suasana bermain secara berkelompok memberikan pengalaman bahwa aktivitas fisik dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk belajar bekerja sama dan menghargai orang lain. Pemanfaatan permainan tradisional sebagai media aktivitas fisik juga menjadi relevan di tengah semakin banyaknya pilihan hiburan berbasis digital. Permainan tradisional dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendorong anak melakukan aktivitas gerak secara aktif sekaligus mengenalkan kembali permainan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat. Melalui kegiatan ini, permainan tradisional asal DIY diharapkan tidak hanya menjadi permainan yang dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi dapat terus dihidupkan dan dimainkan oleh generasi muda. Anak-anak Kampung Emas diharapkan mampu memperoleh pengalaman bermain yang menyenangkan sekaligus mengembangkan aspek fisik, sosial, dan karakter. Kegiatan Sosialisasi dan Penerapan Permainan Tradisional Asal DIY ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya mengintegrasikan kearifan lokal, pendidikan karakter, dan aktivitas jasmani dalam kehidupan anak. Melalui gobak sodor, engklek, dan bakiak, anak-anak belajar bahwa bermain bukan sekadar mencari kesenangan, tetapi juga dapat menjadi proses belajar untuk menjadi pribadi yang aktif, sehat, sportif, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama. Dengan demikian, kegiatan di Kampung Emas, Seyegan, Sleman ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menjaga keberlanjutan permainan tradisional sekaligus membangun kebiasaan hidup aktif dan karakter positif sejak usia dini.
melalui Pengabdian Kepada Masyrakat skema Senat Fakultas